JARUM jam menunjukkan pukul 16.00 WITA. Bus-bus pengangkut wisatawan domestik terus berdatangan menuju sentral parkir Pantai Kuta, Bali. Setelah sopir memarkir bus, satu per satu wisatawan turun. Mereka lantas bergerombol mendekati TL (tenaga lapangan) biro travel yang memberangkatkan ke Bali. Sambil berdesak-desakan, mereka menerima pembagian dua lembar tiket untuk naik angkutan menuju Pantai Kuta.
“Ayo…ayo… yang sudah mendapat tiket langsung naik. Jangan nunggu sepi. Penumpang mobil angkutan menuju Pantai Kuta nggak ada sepinya. Kalau ndak cepat naik, nanti terlambat menyaksikan sunset di Pantai Kuta,” begitu para TL biro travel mengomando wisatawan yang dibawanya tour ke Pulau Bali.
Tak pelak, wisatawan yang sudah memegang tiket terlihat adu cepat berlarian menuju Komotra, sebutan populer mobil angkutan umum pengangkut wisatawan ke Pantai Kuta. Komotra-Komotra yang baru datang langsung diserbu. Karena jumlah wisatawan membludak, mereka harus rela berebut dan berdesak-desakan menaiki Komotra yang jumlahnya terbatas.
Karena itu, para penumpang berusaha memasuki Komotra dengan berbagai cara. Agar mendapatkan tempat duduk, tak jarang mereka harus memanggul temannya memasuki Komotra lewat jendela samping mobil yang tidak dipasang kaca. “Sudahlah, yang penting bisa naik dan cepat sampai Pantai Kuta,” ujar beberapa wisatawan sambil memanggul temannya memasuki Komotra lewat jendela mobil.
Rebutan naik Komotra di Pantai Kuta seperti ini, tampaknya sudah amat jamak khususnya bagi wisatawan domestik. Apalagi musim liburan sekolah. Banyak rombongan pelajar dari berbagai pelosok tanah air berdatangan ke Pantai Kuta. Mereka ingin menikmati keindahan suasana sunset Pantai Kuta yang biasanya juga dibanjiri “bule-bule” dan wisatawan mancanegara lainnya.
“Wisatawan yang ke Pantai Kuta memang diharuskan naik Komotra seperti ini. Bus-bus yang mereka carter nggak boleh ke sana. Semua bus harus berhenti di sentral parkir,” ujar Dewa Siro, salah seorang pemandu wisata yang mendapat job memandu rombongan wisatawan asal Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, akhir Juni lalu.
Untuk menaiki Komotra, wisatawan dikenai ongkos Rp 3.000 per orang untuk sekali jalan. Karena harus pergi-pulang, maka setiap wisatawan harus mengeluarkan ongkos Rp 6.000. Hanya, ongkos Komotra tersebut tidak dibayarkan dalam bentuk uang. Tetapi, untuk membayar, penumpang cukup menyerahkan selembar tiket kepada sopir Komotra.
Biasanya, sebelum naik Komotra, petugas TL dari biro travel yang membawanya memberikan dua lembar tiket untuk satu wisatawan. Masing-masing tiket senilai Rp 3.000. Satu tiket digunakan untuk perjalanan menuju Pantai Kuta. Sedangkan tiket satunya digunakan untuk perjalanan pulang dari Pantai Kuta menuju sentral parkir.
Suasana rebutan Komotra bukan hanya terjadi di area sentral parkir. Tapi, rebutan naik Komotra juga terlihat di ruas jalan dekat Pantai Kuta. Begitu matahari terbenam, wisatawan domistik umumnya memilih balik menuju sentral parkir. Dengan bekal selembar tiket yang sudah ada di genggaman tangannya, mereka berebut mencegat Komotra.
Wisatawan domestik ini memburu Komotra di ruas jalan di sekitar Hard Rock Café, depan Pantai Kuta. Tak ayal, beberapa saat setelah matahari terbenam, trotoar jalan dengan cepat penuh sesak dengan lautan manusia. Tujuan mereka sama: mencegat Komotra.
Karena itu, ketika tiba-tiba muncul Komotra, mereka cepat-cepat lari. Begitu Komotra berhenti, mereka berdesak-desakan rebutan naik Komotra. Karena jumlah Komotra yang melintas terbatas, akhirnya tak semua wisatawan yang sudah lama mengantre bisa cepat terangkut. Mereka harus sabar menunggu munculnya lagi Komotra yang lain.
Bagi yang tak sabar, akhirnya pilih berombongan naik taksi atau mobil plat hitam yang melayani penumpang menuju sentral parkir. Jika kendaraan ini yang dipilih, maka selembar tiket seharga Rp 3.000 yang sudah digenggamnya tak bakalan laku. Lembaran tiket yang sudah dibayar itu, siap-siap saja dibawa pulang untuk kenang-kenangan. Mengapa?
Sebab, sopir taksi maupun kendaraan plat hitam yang dicarternya tidak mau menerima pembayaran memakai lembaran tiket. Mereka meminta penumpangnya membayar pakai uang cash dengan tarif yang lumayan mahal. Sekali jalan menuju sentral parkir, tarif taksi bisa mencapai Rp 60.000 hingga Rp 100.000.
Toh demikian, banyak wisatawan domestik terpaksa memilih cara ini karena tak betah keleleran berjam-jam menunggu Komotra di kawasan Pantai Kuta yang suasananya sudah berubah jadi remang-remang. “Ayo naik taksi saja. Kalau nunggu Komotra terus, nanti bisa ketinggalan rombongan,” kata seorang wisatawan mengajak rekan-rekannya mencarter taksi menuju sentral parkir.
Sumber : Media Indonesia
Rafting di lokasi terbaik di Bali :
Wisata Kapal Pesiar (cruise) paling bagus di Bali :
Wisata Seawalker - Wisata berjalan di dasar laut adanya di
Tiket Pertunjukan Tari Terpopuler di Bali..Must see!